E.ILMU TEKNOLOGI DAN
KEBUDAYAAN
Ilmu dan
kebudayaan berada dalam posisi yang saling tergantung dan saling mempengaruhi. Pada suatu pihak
pengembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung dari kondisi kebudayaannya.
Sedangkan dilain pihak, pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya kebudayaan.
Ilmu terpadu secara intim dengan keseluruhan struktur social dan tradisi kebudayaan,
mereka saling mendukung satu sama lain: dalam beberapa tipe masyarakat ilmu dapat
berkembang secara pesat, demikian sebaliknya, masyarakat tersebut tak dapat berfungsi
dengan wajar tanpa di dukung perkembangan yang sehat dari ilmu dan penerapannya.
F.ETIKA KEILMUAN
Istilah etika keilmuwan mengantarkan kita
pada kontemplasi mendalam, baik mengenai hakekat, proses pembentukan, lembaga
yang memproduksi ilmu lingkungan yang kondusif dalam pengembangan ilmu, maupun
moralitas dalam memperoleh dan mendayagunakan ilmu tersebut. Oleh karena itu,
ada beberapa hal yang mesti diperhatikan.
E.FOKUS FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
Fokus filsafat ilmu pengetahuan adalah
masalah metode ilmu pengethauan. Maka logika dan imajinasi merupakan dua
dimensi penting dari seluruh cara kerja ilmu pengetahuan. Tugas filsafat ilmu
pengetahuan adalah membuka pikiran kita untuk mempelajari dengan serius proses
logis dan imajinatif dalam cara kerja ilmu pengetahuan.
F.MANFAAT BELAJAR FILSAFAT ILMU
PENGETAHUAN
· Dengan berfilsafat, seseorang
akan lebih menjadi manusia, karena terus melakukan perenungan akan menganalisa
hakikat jasmani dan hakikat rohani manusia dalam kehidupan di dunia agar
bertindak bijaksana.
· Dengan berfilsafat seseorang
dapat memaknai makna hakikat hidup manusia, baik dalam lingkup pribadi maupun
sosial.
· Kebiasaan
menganalisis segala sesuatu dalam hidup seperti yang diajarkan dalam metode
berfilsafat, akan menjadikan seseorang cerdas, kritis, sistematis, dan objektif
dalam melihat dan memecahkan beragam problema kehidupan, sehingga mampu meraiih
kualitas, keunggulan dan kebahagiaan hidup.
G.RUANG LINGKUP
DAN KEDUDUKAN FILSAFAT
Ditinjau dari objek formal atau
metodenya, kedua jenis ilmu tersebut memiliki perbedaan ynag sangat mendasar.
Secara umum dapat dikatakan, bahwa setiap cabang ilmu-ilmu mengenai manusia
mendasarkan penyelidikannya pada gejala empiris, yang bersifat “objektif” dan
bisa diukur, dan gejala itu kemudian diselidiki menggunakan metode yang
bersifat observasional atau eksperimental. Dan sebaliknya filsafat manusia
tidak membatasi diri pada gejala empiris. Bentuk atau jenis gejala apapun
tentang manusia sejauh masih bisa dipikirkan, dan memungkinkan untuk dipikirkan
secara rasional, bisa menjadi bahan kajian filsafat manusia. Aspek-aspek,
dimensi-dimensi, atau nilai-nilai yang bersifat metafisis, spiritual dan
universal dari manusia, ynag tidak diobservasi dan diukur melalui metode-metode
keilmuan, bisa menjadi bahan kajian terpenting bagi filsafat manusia.
H.SEJARAH
PERKEMBANGAN ILMU
Yunani kuno sangat identik dengan
filsafat. Ketika kata Yunani disebutkan, maka yang terbesit di pikiran para
peminat kajian keilmuan bisa dipastikan adalah filsafat. Padahal filsafat dalam
pengertian yang sederhana sudah ada jauh sebelum para filosof klasik Yunani
menekuni dan mengembangkannya. Filsafat di tangan mereka menjadi sesuatu yang
sangat berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada generasi-generasi
setelahnya.
Ilmu-ilmu keislaman seperti tafsir,
hadis, fiqih, usul fiqih, dan teologi sudah berkembang sejak masa-masa awal
Islam hingga sekarang. Khusus dalam bidang teologi, Muktazilah dianggap sebagai
pembawa pemikiran-pemikiran rasional. Menurut Harun Nasution, pemikiran
rasional berkembang pada zaman Islam klasik (650-1250 M).
I.LANDASAN
PENELAHAAN ILMU
a. Landasan
ontologis adalah tentang objek yang ditelaah ilmu. Hal ini berarti tiap ilmu
harus mempunyai objek penelaahan yang jelas. Karena diversivikasi ilmu terjadi
atas dasar spesifikasi objek telaahannya maka tiap disiplin ilmu mempunyai
landasan ontologi yang berbeda.
b. Landasan
epistemologi adalah cara yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah sehingga
diperolehnya ilmu tersebut. Secara umum, metode ilmiah pada dasarnya untuk
semua disiplin ilmu yaitu berupa proses kegiatan induksi-deduksi-verivikasi
seperti telah diuraikan diatas.
c. Landasan
aksiologi adalah berhubungan dengan penggunaan ilmu tersebut dalam rangka
memenuhi kebutuhan manusia. Dengan perkataan lain, apa yang dapat disumbangkan
ilmu terhadap pengembangan ilmu itu serta membagi peningkatan kualitas hidup
manusia.
J.SARANA
BERFIKIR ILMIAH
Sarana berpikir ilmiah ini, dalam
proses pendidikan kita, merupakan bidang studi tersendiri. Artinya, kita
mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti kita mempelajari berbagai cabang
ilmu. Dalam hal ini, kita harus memperhatikan dua hal, yakni:
- Pertama, sarana ilmiah "bukan merupakan ilmu", dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan "kumpulan pengetahuan" yang bisa kita dapatkan berdasarkan metode ilmiah. Seperti kita ketahui, bahwa salah satu karakteristik dalam ilmu, misalnya, adalah penggunaan berpikir induktif dan deduktif untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Sarana berpikir ilmiah tidak menggunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. Secara lebih tuntas, dapat dikatakan bahwa sarana berpikir ilmiah mempunyai "metode tersendiri" dalam mendapatkan pengetahuannya, yang berbeda dengan metode ilmiah.
- Kedua, tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah "untuk memungkinkan kita dalam melakukan penelaahan ilmiah secara lebih baik". Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan "untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah kita sehari-hari".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar