Penguasaan
dan pengembangan ilmu dan teknologi adalah amanat kemanusiaan, oleh karena itu
harus memberi manfaat bagi kesejahteraan manusia. Humaniora membawa nilai-nilai
budaya manusia. Nilai-nilai tersebut adalah universal. Tanpa humaniora
pengembangan ilmu dan teknologi tidak lagi bermanfaat bagi manusia.
Pengembangan/ perkembangan yang banyak disusupi nilai-nilai bisnis menimbulkan
hedonisme yang bermula di masyarakat bisnis, yang berlanjut pada umunya.
Dipandang
dari adatnya ke-Timuran-nya maka Indonesia sangat berbeda dengan daerah yang
ada di Barat, rata – rata orang Timur sangat menjunjung tinggi nilai – nilai
budayanya sendiri sebagai aset untuk melestarikan daerah dan budayanya secara
turun – temurun. Nilai – nilai budaya yang secara turun – temurun yang dimaksud
adalah Sopan, Santun, Taat, Menghormati, Menghargai, Menjunjung Tinggi Adat,
Tata Krama Pergaulan, dan lainnya yang menjadi ciri khas orang Indonesia.
Kebiasaan mengalah, menghargai jasa orang lain, menghormati hak milik orang
merupakan gambaran betapa orang Indonesia merupakan bangsa yang sangat
menjunjung tinggi budayanya. Bagi orang Indonesia budaya adalah jembatan menuju
kesuksesan, budaya adalah tempat untuk mencari solusi jika terdapat
permasalahan, budaya adalah harta yang tak ternilai harganya.
seberapa
pentingkah kajian ilmu humaniora terhadap perkembangan ilmu pengetahuan? Jawabnya,
tentu saja penting! Humanioramerupakan ruh dari semua ilmu. Betapa tidak,
humaniora merupakan satu-satunya rumpun ilmu yang mempelajari manusia dengan tujuan
untuk memahami hakekat manusia itu sendiri agar bisa lebih memanusiakan
manusia. Sedangkan di lain pihak, rumpun ilmu lain hanyalah bertujuan untuk
memudahkan kehidupan manusia di dunia melalui kajian-kajian dan
penemuan-penemuan. Dengan kata lain, sains dan ilmu sosial memudahkan kehidupan
manusia, sedangkan makna serta hakikat tentang manusia dan kehidupan itu
sendiri dijelaskan oleh humaniora. Tentunya, manusia tidak akan pernah bisa
mengembangkan segala macam potensinya (termasuk di bidang sains dan ilmu
sosial) jika tidak pernah memahami tentang hakikat dan keberadaanya.
Salah
satu alasan kenapa humaniora disebut sebagi “ruh” ilmu lain, karena humaniora
memberikan arah dan makna bagi keberadaan dan perkembangan ilmu lain. Sebagai
contoh, dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, humaniora memberikan
pandangannya melalui kajian-kajian etika ketika teknologi kloning baru muncul
dan populer. Apakah logis, jika kloning diperbolehkan untuk diterapkan kepada
manusia secara luas sehingga nilai-nilai dasar yang menjadikan seseorang
disebut manusia menjadi kabur? Apakah etis, manusia bertindak seolah-olah
menjadi Tuhan dengan sewenang-wenang membuat makhluk baru tanpa melalui proses
reproduksi? Apakah berperikemanusiaan jika manusia membuat makhluk baru dan
membiarkannya mati sebelum waktunya karena tidak sempurnya teknologi rekayasa
kloning[5]?
Sebuah
contoh lagi adalah dalam bidang teknologi komunikasi. Sebagaimana kita ketahui,
teknologi informasi dan komunikasi manusia saat ini sudah sedemikian maju, sehingga
seseorang tidak perlu bertemu muka langsung untuk mengadakan pertemuan atau
rapat. Semuanya bisa dilakukan jarak jauh dan tanpa kabel. Akan tetapi,
tiba-tiba saja kita secara tidak sadar telah melakukan sesuatu yang sangat
besar dalam kehidupan kita melalui teknologi tersebut. Di satu sisi teknologi
tersebut memang mendekatkan kita dari yang jauh. Namun di sisi lain, tanpa kita
sadari teknologi itu juga menjauhkan kita dari orang yang sudah dekat secara
spasial dengan kita. Kita selalu sibuk membalas tweet dari orang-orang
yang terkadang mukanya saja tidak kita ketahui, sedangkan di sebelah kita duduk
seorang sahabat baik—yang juga sedang melakukan hal yang sama—yang selalu
membantu kita disaat kita membutuhkan bantuan. Tiba-tiba saja kita kurang berinteraksi
secara fisik bahkan dengan orang yang sangat dekat dengan kita.
Humaniora
melihat fenomena tersebut dan berusaha mengingatkan kita melalui
kajian-kajiannya bahwa kita terancam kehilangan predikat kita sebagai makhluk
sosial, makhluk mulia ciptaan Tuhan yang senantiasa saling membantu satu sama
lain melalui interaksi fisik. Kajian humaniora memberikan arah bagi teknologi
tersebut agar digunakan sesuai dengan tujuan kebaikan manusia dan memanusiakan
manusia. Humaniora juga memberikan makna bagi kehidupan kita dengan cara
mengingatkan kita untuk selalu menjaga nilai kemanusiaan kita sebagai manusia
yang sekaligus membuat kita berbeda dan lebih mulia dari pada makhluk lain.
Di
sisi lain, humaniora ternyata juga memiliki peran lain yang sangat vital dalam
teknologi informasi dan komunikasi. Peran bahasa dalam komunikasi dan transfer
informasi merupakan sesuatu yang tak dapat diragukan perannya. Tak bisa
dibayangkan bagaimanakah sebuah informasi disampaikan tanpa menggunakan bahasa
(Mustansyir 213), atau bagaimana komunikasi verbal bisa berjalan tanpa
menggunakan bahasa.
Dalam
perkembangan ilmu pengetahuan, sekali lagi humaniora berperan memberikan arah
dan hakikat tujuan pengembangan tersebut. Humaniora senantiasa menjaga agar
segala perkembangan ilmu pengetahuan selalu didasarkan atas kepentingan
kebaikan umat manusia. Humaniora juga selalu menjaga agar dalam perkembangan
tersebut manusia tetap menjadi subjek yang mengendalikan ilmu pengetahuan demi
terciptanya kehidupan manusia yang lebih baik. Tak akan bisa dibayangkan
bagaimana jadinya nanti jika teknologi robotik dan kloning menjadi sedemikian
maju, sehingga tercipta manusia-manusia cyborg atau
robot-robot dengan kecerdasan buatan yang menyamai manusia, sehingga tiba-tiba
dunia didominasi oleh bukan manusia lagi, melainkan oleh mesin-mesin ciptaan
manusia. Manusia tiba-tiba menjadi tersingkir dari dunianya dan menjadi
subordinat terhadap ciptaannya sendiri. Humaniora mengajak kita merenungkan hal
ini, salah satunya, dengan cara memberikan suatu gambaran fiksi hal tersebut
dalam bentuk film-film seperti trilogi Terminator dan trilogi Matri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar